BANDARLAMPUN – Calon Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim, atau akrab di sapa Nunik, berkomitmen menjadikan Provinsi Lampung bersama Arinal Djunaidi ramah perempuan dan anak.

Hal ini disampaikannya saat Dialog Publik Mimpi Cagub untuk Kemajuan Perempuan yang digelar Lembaga Advokasi Perempuan Damar di Ballroom Hotel Emersia, Selasa, (13/3).

Bupati Lampung Timur (Lamtim) non aktif ini, sangat setuju dengan pernyataan aktivis senior perempuan SN Laila mengenai pemberdayaan perempuan bukan hanya dari seorang pemikiran. “Saya setuju sekali dengan kata-kata senior saya Mba Laila, pemikirannya harus juga untuk memperjuangkan perempuan. Tapi saya sakit jiwa kalau tidak memperjuangkan perempuan,” ucap dia disambut tepuk tangan perwakilan perempuan yang hadir.

Pasangan nomor urut tiga ini menerangkan kalau bisa tampil cantik juga karena perempuan. “Saya disini bisa tampil cantik karena jahitan perempuan dari Lampung Timur. Baju yang saya kenakan karena produk karya perempuan di Lampung Timur. Saya bukan akan…akan….akan….Tapi saya sudah lakukan. Cita-cita saya banyak. Lampung dikepemimpinan Arinal – Nunik harus menjadi Lampung yang ramah perempuan. Itu dilakukan panjang nantinya dengan pergub dan perda serta aturan lainnya,” tegasnya.

Nunik pun menceritakan kisahnya dalam mengeyam pendidikan yang sulit hingga dapat bergelar S3. “Saya lahir di desa dan bisa melanjutkan SMP tapi tidak ada sekolah SMA. Sulitnya mencari sekolah di desa dan pendidikan di desa. Perempuan saat itu banyak yang lulusan SD dan kalau mau kerja juga jadi apa. PRT atau pekerjaan lain yang tidak layak dan terakhir bisa saja menjadi TKW. Itulah sekelumit kisah. Itu karena saya ingin berubah jadi sarjana yang hanya dua orang didesa saya,” ceritanya.

Ketua PKB Lampung ini mengungkapkan, jika ia bukan hanya komitmen dalam pembagian perempuan dalam satuan perangkat kerja daerah (SKPD). “Yang lebih penting bagaimana laki-laki mengetahui hak-hak perempuan dan juga memiliki komitmen untuk mengerti,” terangnya.

Dia juga memberikan program pemberdayaan perempuan dalam peningkatan kemampuannya. “Pertama kalau kepentingan formalnya yang putus sekolah harus kejar paket. Untuk informalnya harus memiliki pendidikan keterampilan,” jelasnya.

Nunik juga membahas mengenai stunting yang terjadi di Lampung tidak hanya pemberian makanan yang bergizi. “Tentang stunting bukan hanya makanan tapi sanitasi buruk. Lampung harus bebas dari sanitasi buruk. Yang jelas kami punya komitmen untuk menjadikan Lampung bebas dari sanitasi buruk,” janjinya.

Nunik menuturkan butuhnya implementasi dan regulasi yang dijelaskan dari awal. “Ini soal panggilan hati, itu harus diwujudkan ini bukan manis. Tidak bisa hanya dibebankan oleh pemerintah. Ini harus bersama-sama. Prinsipnya sebenarnya kita tidak membicarakan gelas kosong. Bukan berarti pemerintah yang ada saat ini tidak bergerak sama sekali. Kita butuh lebih dari ini dan butuh inovasi,” ujarnya.

Dia pun meminta agar dialog dapat dibuat komitmen untuk bersama memperjuangkan perempuan. “Bahasanya kalau kita hanya cuma omong kosong saja hari ini, kita bisa buat komitmen dan bukan hanya mimpi. Mari bergotong royong untuk mewujudkan pemberdayaan perempuan dan anak di Lampung,” tandasnya.

Dalam dialog publik juga dihadiri perwakilan pasangan calon nomor satu, calon wakil Gubernur Lampung nomor dua Sutono, pengamat ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan perempuan. Nunik bersama dengan Sutono dan perwakilan paslon nomor satu pun melakukan kontrak politik untuk memperjuangkan pemberdayaan perempuan di Lampung yang diinisiasi oleh Lembaga Advokasi Perempuan Damar. (ron)

LEAVE A REPLY