BANDARLAMPUNG-Terjadi sedikit kericuhan di Jalan Pangeran Antasari, Kelurahan Kedamaian, Kecamatan Kedamaian Bandarlampung, Rabu (24/1) antara, aparat Pemda Kota Bandarlampung (Dinas Tata Kota dan Pemukiman) beserta Pol PP, dengan ahli waris yang mengaku pemilik tanah yang ada di depan perempatan Villa Citra, Sukarame.

Aksi keributan kecil itu terjadi lantaran, petugas tidak diperkenankan memasang cor-coran (fanel) yang akan digunakan untuk memagari tanah tersebut, sehingga datang petugas Dinas Tata Kota (Distako) dan Pemukiman, terjadilah percekcokan mulut, karena ahli waris mengaku mereka tidak punya hak atas tanah apalagi untuk memagar beton (fanel). “Ya kami disini pemilik yang sah dan kami bertahan karena ini adalah hak warisan dari ayah saya Hi.Dahlan, kami ingin pertahankan hak kami dan kami ini punya SKT (sertifikat kererangan tahan sejak tahun 1953, dari bapak saya,” ujar Agus Ahmad Baidewi, salah seorang ahli waris dari 9 bersaudara anak Hi.Dahlan, di lokasi kejadian.

Senada diungkapkan penasehat hukum (PH) Muchzan Zain SH, tanah yang diklaim milik keluarga Agus Ahmad Baidewi (ahli waris), kliennya mempertahan hak sebagai ahli waris yang akan dikuasai oleh pihak yang tidak ada asal-usul tanah tersebut. Pihaknya sudah menunggu dan mengisi fisik tanah tersebut selama 20 tahun lamanya, tidak ada masalah dan tiba-tiba ada ibu Tina yang mengakui ini tanah miliknya.

“Kami sudah cek di BPN (Badan Pertanahan Nasional) sertifikat atas nama bu Tina yang klaim tanah kami ini tidak ada dan tidak terdaftar, kalau emang bu Tina itu ada alas haknya yang sah, kita bertemu di pegadilan dan atas masalah ini, kami akan laporkan ke pihak berwajib,” ujarnya, seraya berapi-api.

Dijelaskannya, tanah seluas 6.600 meter persegi ini, yang diwariskan H. Dahlan untuk anak-anaknya salah satunya Agus Ahmad Baidawi, tiba-tiba di November tahun 2000 ada yang klaim milik orang yang tidak dikenal bernama Tina. Secara hukum bukti kepemilikam tanah yang dikantongi pihknya sah dimata negara karena mereka memiliki surat keterangan tanah (SKT) dari pemilih sah yakni Agus Ahmad Baidawi. “Ini surat tanah yang telah dikantongi pihak kami, secara hukum telah diakui kelegalannya dimata hukum,” tegasnya.

Berdasar kata dia, alasan Tina mengklaim bahwa tanah tersebut milik dia lantaran telah mengkantongi duplikat sertifikat tanah. “Hanya bermodal duplikat sertifikat surat tanah tidak bisa untuk mengklaim bahwa itu tanah dia,” kata dia.

Dan pihaknya juga, imbuh Zein, akan mempertanyakan keterlibatan Distako dan Pol PP yang membekengi pemagaran tanah milik kliennya. “Kami ini memang rakyat kecil, tetapi kami juga sedikit mengerti aturan, apa urusannya, ada pejabat Distako membekengi orang yang klaim tanah kami, dan bawa-bawa pol PP pula, ini ada bukti rekamannya, kami rekam tadi,” paparnya.

“Dan pas di telpon tadi Kepala Distako dan Pemukiman pak Effendi Yunus, seolah-olah membekingi ibu Tina ini. Bahkan ia mengaku saudaraan dengan ibu Tina. Padahal ibu Tina ini setau saya etnis Tionghoa (Orang Cina) masak pak Effendi orang lampung, saudaraan dengan orang Cina, ini apa namanya kalau nggak bekingi,” jelan Zein.

Di lain sisi Kabid Pengawasan dan Monitoring Distako dan Pemukiman Dekrison menjelaskan, jika kapasitas dia datang ke lokasi tersebut adalah sebagai pejabat Distako yang membidangi pertanahan dan pemukiman. “Ya sebagai Staf distako saya punya hak, karena dari awal rapat mereka pemilik yang mengakui tanah bu Tina ini tidak memperbolahkan memasang beton dan adanya Pol PP ini juga mereka adalah petugas penegak perda dan ketertiban, kalau saya ada apa-apa kan ada saksi Pol PP ini, lagian Pol PP juga ikut dalam rapat juga saat polemik awal tanah ini,” ucapnya.

Atas masalah ini, imbuhnya, pihaknya tidak ada kepentingan, hanya saja sebagai aparat pemda kota, ia berkewajiban untuk mencari jalan tengah. “Saya sudah sarankan, supaya masing-masing kalau merasa benar, silahkan ke meja hijau atau lapor polisi, biar mereka yang menyelidikinya,” tandasnya.

Namun sayang, ketika dihubungi melalui via telepon selulernya, meski dalam keadaan aktif, Tina yang mengkalim tanah seluas 6.600 meter persegi tersebut, tidak mengangkat telpon gengamnya. Bahkan pesan singkat untuk mengkonfirmasi masalah tersebut, baik WtahsApp pun tidak di balasnya. (ron)

LEAVE A REPLY